Semuanya sudah ada yang ngatur


Cerita lucu islami, semuanya sudah ada yang ngatur - Kuasa Allah SWT meliputi seluruh jagat raya, dan rahmatnya juga meliputi semua makhluk ciptaannya. Tanpa terkecuali, tak ada yang luput satupun dari pengawasan-Nya. Semua mendapatkan nikmat-Nya, walau kadang kita saja yang kurang mensyukuri dan menyadari atas setiap nikmat yang telah diberikan oleh Allah tersebut.

Memang setiap manusia itu berbeda-beda nikmat yang diperolehnya ketika hidup didunia ini,ada orang yang dilebihkan nikmat dalam bentuk kekayaan, keturunan yang banyak, ada juga berupa kesehatan yang dengannya orang tersebut bisa menikmati hidupnya sampai umur tua. Bahkan ada juga orang yang mendapatkan nikmat-nikmat itu secara bersamaan. Diberikan rezeki, keturunan yang bermafaat serta kesehatan yang baik.

Sama kita ketahui, untuk pengaturan rezeki, jodoh, dan maut itu adalah mutlak urusan Allah SWT. Dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadist bahwa jauh sebelum bumi ini diciptakan, takdir masing-masing setiap manusia itu sudah ditetapkan oleh Allah, kita sebagai manusia hanya diminta untuk menjalani sesuai dengan suratannya masing-masing (takdir). Tapi bukan berarti hal yang telah ditetapkan tersebut tidak bisa berubah sob, kita juga tidak dibolehkan menjalani hidup ini dengan cara menjalaninya begitu saja, apa adanya. Sebagai manusia yang beriman kita dituntut untuk selalu berusaha mencari segala sesuatu yang terbaik dalam hidup ini.

Seperti halnya dalam sebuah cerita lucu islami dibawah ini, yang berjudul cerita lucu islami, semuanya sudah ada yang ngatur. Berkisah tentang sorang teman saya yang mendapatkan rezeki dalam bentuk sebuah pekerjaan yang sangat di mimpi-mimpikan oleh teman-teman lainnya.

Semuanya sudah ada yang ngatur

keajaiban-rezeki

Bagi sebagian orang sukses itu adalah memiliki pekerjaan yang hebat atau bekerja di sebuah perusahaan besar dengan skala nasional bahkan internasional serta memiliki gaji dengan jumlah yang besar. Ya, itu merupakan standar sukses dalam bidang pekerjaan bagi banyak orang, pun termasuk saya.

Setiap orang menginginkan hal tersebut, dan kebanyakan sukses itu mudah diraih oleh orang orang yang memiliki kemampuan lebih dalam bidang ilmu serta pendidikannya. Saya lihat teman-teman seperjuangan waktu kuliah dulu, sekarang sebagian dari mereka sudah ada yang meraih sukses di bidang pekerjaan, walaupun skalanya belum sukses-sukses betul, tapi bisalah dia dikatakan sebagai orang yang telah mapan dan bisa memenuhi kebutuhan pribadinya secara mandiri.

Teman – teman yang telah saya sebutkan “sukses” itu saya ketahui waktu kuliah memang memiliki kecerdasan lebih dibandingkan teman-teman lainnya yang biasa saja. Mereka ada yang menonjol dibidang akademik, organisasi, dan berbagai bidang lainnya.

Sebuah kesuksesan tentu di tunjang oleh yang namanya kepintaran atau kecerdasan serta keberuntungan, apakah itu kecerdasan emosi (EQ) atau kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan inipun merupakan sebuah nikmat yang diberikan oleh ALLAH SWT kepada setiap hamba-Nya dengan tingkat yang berbeda-beda.

Cerita lucu ini juga bercerita tidak jauh dari tingkat kecerdasan tersebut sob, yang nanti berkaitan dengan rezeki yang akan kita peroleh.

Oke, kita mulai saja cerita lucu islami nya yah....


Waktu kuliah dulu saya memiliki salah seorang teman dekat, yang saking dekatnya kami sudah seperti saudara, sahabat, sekaligus keluarga. Semua perjalanan hidupnya, banyaknya saya tau. Begitupun dengan keluarganya. Saya merasa bukan orang asing lagi bila berada diantara keluarganya. Sahabat saya ini waktu kuliah bisa dikatakan orang yang biasa-biasa saja, tidak terlalu menonjol, di bidang akademik, organisasi, maupun pergaulan. Begitu juga dengan kecerdasannya, lebih kurang kami sama lah... sama-sama nanggung, tidak terlalu cerdas, juga tidak terlalu bodoh. HiHiHi

Masa studi yang saya tempuh dengan si teman ini juga hampir sama, maklum, kami orang pas-pasan, lama tamatnya. Setelah wisuda, si teman memutuskan untuk pergi “merantau” ke ibukota Jakarta. Sedangkan saya masih menetap di kota Padang. Setelah terpisah jarak sekitar dua tahun, meski kami komunikasi via telepon dan media sosial tak pernah putus, beberapa bulan yang lalu saya kembali bertemu dengan sahabat saya ini. Di kota Jakarta.

Keadaannya saat ini sudah sangat jauh berbeda, selain sehat dan masih beriman, menurut saya kata “sukses” sudah bisa disematkan pada dirinya. Ya, teman saya tersebut sudah berkerja di sebuah perusahaan multnasional yang sangat ternama dengan status karyawan tetap. Hal ini tentu merupakan sebuah prestasi yang sangat membanggakan bagi dirinya, keluarga, juga saya sebagai sahabatnya.

Perihal dia diterima di perusahaan itu tidak banyak yang tau, bahkan saya sendiri yang “mengaku” sahabat baru tau beritanya setelah dia berkerja sekitar 3 bulan di perusahaan tersebut. Mengingat perjuangan yang sama-sama kami tempuh dulu, dia merantau kejakarta, setelah beberapa bulan baru mendapatkan pekerjaan, dengan gaji yang bisa dikatakan hanya bisa “lapeh makan”. Tak jauh bedanya dengan saya di kota padang, setelah beberapa minggu menikmati “masa jaya” wisuda, pikiran dan hasrat mencari pekerjaanpun muncul. Beberapa pekerjaan serabutan pernah saya coba sebelum memutuskan untuk hijrah ke kota Jakarta dimana saya berada saat ini.

Kembali ke cerita, saya taunya dia sudah bekerja di perusahaan tersebut secara tidak kebetulan. Waktu itu dengan sengaja datang kerumah nya, dengan niat awal ingin bersilaturahmi dengan kedua orang tua dan keluarganya, yang juga telah menganggap saya bagian dari keluarga mereka. Mengapa saya tidak mendapat kabar langsung darinya, ini dikarenakan selama 2 bulan awal diterima di perusahaan itu para karyawan baru harus menjalani proses pendidikan (karantina-di asramakan) di singapura. Dan dilarang berkomunikasi dengan dunia luar, semua gadget di titipkan pada penjaga asrama. Untuk menerima telepon pun harus disambungkan terlebih dulu ke teleponnya asrama, dan itupun hanya memperbolehkan menerima telepon dari kedua orang tua.

Kira-kira begitulah cerita yang saya dapatkan dari ibunya, Sebelum mendengar cerita ini sayapun beberapa waktu sempat heran, kenapa beberapa bulan terakhir nomor si teman ini tidak bisa di hubungi.

Mengingat proses karantina yang dilakukan oleh perusahaan itu memang tidak bisa disalahkan, karena sudah menjadi aturannya perusahaan, bahkan beberapa instansi pemerintahpun ada yang menerapkan aturan seperti itu. Ini tentu bertujuan guna mencetak karyawan yang tangguh dari segi mental dan fisik.

Sebelum ceritanya saya lanjutkan, ada satu hal yang lupa saya ceritakan dari sisi kepribadian teman saya ini. Dia adalah orang yang cukup alim sob, alimnya bukan dalam konteks seperti mahasiswa aktivis-aktivis lain. Si teman ini sangat suka mengerjakan ibadah-ibadah sunat, seperti shalat tahajjud, dhuha, dan puasa senin-kamis yang hampir tak pernah ditinggalkannya. Untuk bidang oraganisasi islam di luar atau dalam lingkungan kampus setau saya dia tak ada bergabung satupun.

Kembali lagi ke topik dia diterima diperusahaan itu, untuk seorang teman yang kapasitas otaknya sudah saya ketahui. Sepertinya mustahil bagi dia untuk bisa diterima di perusahaan tersebut, yang sudah di ketahui umum memiliki kualifikasi yang sangat tinggi bagi para calon karyawannya, serta menempuh beberapa kali seleksi sebelum diterima secara penuh sebagai karyawan tetap. Tak jarang, banyak pesertanya yang gagal di tes-tes terakhir.

Untuk kapasitas seorang teman saya ini, mustahil sepertinya dia akan diterima. Pernah terlintas dalam fikiran saya, apakah dia menggunakan cara curang untuk lolos, seperti menyogok misalnya. Tapi fikiran itu cepat saya buang jauh, mengingat tentu memerlukan biaya yang sangat besar bila harus menyogok perusahaan seperti itu. Dan belum tentu juga perusahaan tersebut bisa di masuki dengan cara curang, karena perusahaan ini terkenal dengan “image” nya yang bersih. Ditambah lagi, Sepertinya hal itu tak mungkin terjadi, saya tau keluarga teman ini bisa di katakan keluarga dengan ekonomi yang biasa saja. Apalagi hal sogok menyogok ini sangat bertentangan dengan idealis mereka.

Waktu hari saya berkunjung kerumahnya tersebut, saya bercerita panjang lebar dengan kedua orang tuanya, terlebih dengan ibunya. Ibu yang sudah cukup umur ini pun tidak menyangka rezeki pekerjaan itu akan menghampiri anaknya, satu hal yang sangat membuat saya terenyuh dan  mengakui kebesaran Allah SWT adalah ketika ibu tersebut bercerita akan kekuatan Do’a terlebih lagi Do’a ibu. Ibu teman saya ini bercerita bahwa sejak waktu anaknya memberi tahu akan mengikuti seleksi pertama dia tak pernah lupa memanjatkan Do’a agar diberi kemudahan untuk anaknya di setiap selesai shalat fardhu maupun shalat sunat, bahkan ibu tersebut tidak jarang sengaja melaksanakan shalat tahajjud, khusus memohonkan kemudahan bagi teman saya selama menjalani proses seleksi yang di lalui sebanyak 6 tahap dan memakan waktu lebih kurang empat bulan tersebut.

Waktu kemarin saya bertemu denga si teman ini, kami kembali bercerita panjang lebar, mengingat kembali masa-masa kuliah. Serta tak lupa saya menanyakan jalan cerita sampai dia diterima di perusahaan tempat dia  berkerja sekarang beserta tips yang dilakukannya dalam menempuh setiap seleksi.

Si teman mengatakan bahwa tak ada tips khusus yang dilakukannya, hanya saja dia tidak pernah lupa untuk menjalankan ibadah wajib dan ibadah sunat seperti yang sudah saya sebutkan diatas, ditambah terus memanjatkan do’a kepada Allah SWT agar dilancarkan semua urusannya dalam menghadapi semua seleksinya. Plus, tidak lupa belajar, membahas soal-soal yang berkaitan dengan seleksi tersebut. Bahkan dia mengatakan selama menunggu waktu pengumuman antara satu seleksi dengan seleksi berikutnya, hampir setiap malam dia tidak pernah meninggalkan shalat tahajjud ditambah do’a agar lulus dalam setiap seleksinya.

Ketika tiba di hari H (hari ujian), si teman ini merasakan fikirannya begitu tenang dan seperti “terbuka” dalam mengerjakan soal-persoal. “Seperti ada yang menuntun saya” katanya. Dan terbukti, dari setiap pengumuman tahapan seleksi, selalu nilai teman saya ini berada di peringkat 3 besar. Bahkan pernah 2 kali dari 6 tahap seleksi tersebut nilainya berada pada posisi pertama. Padahal, waktu kuliah saya sangat tau kualitasnya.

Ah, saya merasakan ini memang benar-benar suatu rahmat dari Allah SWT yang di berikan-Nya kepada teman saya tersebut. Bagaimana tidak, dengan umur yang masih terbilang muda, dia sudah mendapatkan apa yang mungkin di mimpi-mimpikan oleh semua orang, gaji besar, status pekerjaan, dan jaminan hidup. Disini saya bukan bermaksud melebih-lebihkan sob, tapi mungkin setiap orang meng-iyakan bahwa apa yang telah diraih teman saya ini adalah sebuah bentuk kesuksesan di bidang pekerjaan. Sebagai perbandingan, gaji pokok yang diterima tiap bulannya di perusahaan tersebut oleh teman saya adalah 8 kali gaji yang diterima oleh PNS yang telah mengabdi selama 20 tahun. Itu baru gaji pokok, belum termasuk tunjangan lainnya, serta fasilitas yang diberikan perusahaan. Ya, untuk tempat tinggal saja teman saya ini ditempatkan di sebuah apartemen mewah yang berada di daerah kemayoran. Tidak terbayangkan, betapa bahagianya hidup teman saya ini nantinya, karena kenikmatan yang diperolehnya itu tidak dalam waktu yang singkat. Mengingat statusnya di perusahaan terebut adaah karyawan tetap. Tentu fasilitas ini akan tetap dinikmatinya selama dia masih bekerja di perusahaan tersebut, 30 atau 40 tahun kedepan.

***

Oke, untuk cerita kesuksesan teman saya cukup disitu ya sob, sekarang kita kembali kepembahasan yang sesuai dengan judul postingan ini, semuanya sudah ada yang ngatur. Seperti yang sudah saya tulis di awal postingan, Kekuasaan Allah memang tidak terbatas, yang terjadi pada teman saya tersebut salah satu contohnya.

Siapa yang akan menyangka dia akan mendapatkan keajaiban rezeki seperti yang telah saya cerita kan diatas. Sebagai pelajaran yang bisa kita ambil adalah, kita tidak boleh berputus asa dalam mencari rahmat Allah SWT. Apakah itu jodoh, pekerjaan, keturunan, dsb. Terus berusaha, garis tangan atau takdir tiap orang memang berbeda-beda dan sudah ditentukan oleh Allah, tapi bukan kah Allah SWT juga telah berjanji dalam firman-Nya yang berarti kurang lebih “ keadaan suatu kaum itu tidak akan berubah jika tidak mereka sendiri yang  merubahnya”. Ini bermaksud, masih adanya harapan dan jaminan dari Allah SWT jika kita ingin merubah hidup kita.

Masing-masing hidup kita sudah ada takdirnya, ibarat sebuah jalan, begitulah hidup ini. Dalam setiap jalan tentu ada persimpangan. Hidup yang hanya mengikuti garis takdir seperti menempuh jalan lurus, terasa biasa saja. Tapi bila dalam perjalanan kita berani mengambil jalan lain, jalan yang ada di persimpangan tentu rasanya akan berbeda, dan mana tau dengan menempuh jalan yang berbeda tersebut kita akan lebih cepat sampai di tujuan. Begitupun dalam hidup, bila kita berani mengambil sebuah resiko dengan tujuan mengharapkan keadaan yang lebih baik, tentu pasti akan ada hasilnya. Bahkan kadang hasil yang kita peroleh lebih dari yang kita harapkan.

Satu lagi sob, dalam setiap usaha baik yang kita lakukan, apa saja bentuknya itu. Jangan lupa untuk selalu berdo’a, karena seperti kata pepatah usaha tanpa do’a itu akan sia-sia. Begitupun sebaliknya Do’a yang tanpa usaha juga tidak ada artinya. Dengan berdo’a kita akan mendapatkan semangat baru untuk meraih apa yang kita cita-citakan tersebut.

Do’a dari orang lain terlebih kedua orang tua kita juga sangat besar peranannya, saya lihat dan berkaca dari orang-orang sukses yang pernah saya kenal. Umumnya mereka adalah anak yang selalu berbakti dan menghormati kedua orang tuanya, baik sebelum ataupun sesudah kesuksesan itu diraih. Terlebih lagi ibu, dalam islam di ibaratkan bahwa surga itu berada di bawah telapak kaki ibu. Ridho orang tua kedua derajatnya setelah ridho Allah, oleh karena itu kita diingatkan untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua.

Kita juga diajarkan bila akan mengerjakan sesuatu hal, hal disini dalam konteks “baik”, untuk selalu meminta do’a dan restu dari kedua orang tua. Agar pekerjaan tersebut bisa kita selesaikan serta mendapatkan hasil yang terbaik. Seperti halnya yang dilakukan oleh teman saya dalam cerita diatas, selain dia berusaha dan berdo’a, dia juga tidak lupa agar kedua orang tuannya, terlebih ibunya untuk ikut mendo’akan usaha yang dilakukannya tersebut.

Terkadang, do’a seorang hamba tidak di ijabah disebabkan kesalahan dan dosa-dosa yang masih ada pada dirinya, tapi Allah mendengarkan do’a orang lain yang ikut mendo’akan orang tersebut. Untuk itu, bagi teman-teman yang orang tuanya masih hidup agar selalu berbakti kepada orang tua, dan bagi orang tuanya yang telah meninggal kita diajarkan cara berbakti, yaitu dengan selalu mendo’akan agar orang tua kita diberi tempat yang terbaik oleh Allah SWT.

Demikian dulu sob, cerita lucu islami, semuanya sudah ada yang ngatur,  saya juga sudah lumayan capek ngetiknya nih. Semoga cerita lucu islami ini bisa menjadi inspirasi serta menambah semangat kita untuk terus berusaha mencari rahmat Allah SWT dalam hidup ini.

Share :

Facebook Twitter Google+
22 Komentar untuk "Semuanya sudah ada yang ngatur"

mohon doanya mas, supaya sukses dunia akherat :)

Akhirnya kelar juga baca cerita panjang ini. Cerita yang bikin gue senyum-senyum.

Ternyata hal-hal kayak gitu beneran ada, ya. Keren banget. Hehehe. Keajaiban rezeki. :))

Yup, semua sudah ada yang mengatur, bahkan yang tidak ternalarkan oleh kita :)

Artikelnya keren deh, meskipun ngos-ngos-an saya membacanya he..he..
Saya juga percaya dengan kekuatan doa.

Meskipun PUANJANG>>>>>>>>>>>>>>>>>>> dan lebar..... (Sorry lebay). Tapi emang bener kok, gue selalu percaya sama kekuatan doa. Bahkan, kalo mau ngapa2in, gue minta doain nyokap sama bokap dulu, biar gampang jalan gue entar.

Lucu juga kalo kejadiannya kek gitu.

Pesan moralnya dapet banget, kuncinyscemang usahaa

Kelar juga bacanya
tapi ga ada adegan lucunya yah?

kekuatan doa tak pernah salah ya kaannn

artinya (menurut saya), awaL perjaLanan kehidupan seseorang tidak menjamin dimasa akhirnya. maka begituLah agama mengajarkan kepada kita, bahwa tidak diperkenankan menuding atau menvonis seseorang secara sewenang-wenang tanpa didasari oLeh fakta.

trims atas pencerahannya meLaLui tuLisan yang menarik untuk dikaji secara daLam oLeh penaLaran akaL sehat.

Sangat terhibur mas, alhamdulillah.

Memang ada hikmah dibalik cerita diatas.

Kayaknya pernah baca deh cerita ini, tp lupa dimana ya?

Yang bener mas ?!
Ini bukan cerita copas-an lo ...

Diambil hikmahnya saja ya gan

Ceritanya panjang tapi sangat mengispirasi.

Orang yang selalu mengingat tuhannya (Allah) InsyaAllah akan di beri petunjuk dan kemudahan, seperti yang di alami teman mas putra... Itu lah jalan hidupnya, padahal waktu mengemban pendidikannya biasa aja yah...sekarang sudah memiliki salary yang waw banget...

So with this site is to make me spirit .

rezeki udah diatur oleh Allah ... tetapi kita tetap harus ikhtiar

Buat yang gak punya akun blogger masih bisa ikutan koment kok. Caranya,
Pilih (Name/Url) lalu masukan nama dan link kamu (misal link FB).

Thanks buat yang ninggalin koment #KissHug

Pengikut

Back To Top