Mengenang cinta yang tak sempat singgah dihatimu


Cinta itu sederhana : saling berbagi, saling percaya, saling menjaga.
Itu kata orang... berbeda dengan cara  yang biasa dilakukan dalam mencinta. Caraku, asing dalam mencintaimu.

seperti apa ?

Aku memikirkanmu...
Selalu memikirkanmu.
Hanya memikirkan ?

Memikirkan, meski tak termasuk dalam sebuah deskripsi cinta yang sering dipakai kebanyakan orang, tapi ini salah satu caraku untuk mencinta mu. Ya... aku yang berada di subjek sebagai orang yang mencintaimu, orang yang selalu berharap kaupun balas mencintaiku.

Kupelajari sendiri, cinta juga berasal dari sebuah pemikiran. Tak mutlak rasa, "cinta berawal dari mata lalu turun kehati" sepertinya tidaklah salah... mata melihat, hati memilih, akal memikirkan. Meski mata condong kepada yang indah dan baik, harus melalui akal dulu ; yang memikirkan mana yang terbaik dan buruk, kemudian hati menentukan akan memilih yang mana.

Hati punya kekuasaan tersendiri, Kadang memang pilihannya bertentangan dengan keinginan orang banyak. Tapi dalam hal memilih ini sepenuhnya adalah hak sipunya hati.

Tak selalu hati memilih yang baik menurut kebanyakan orang. Kadang ada tujuan dan maksud tertentu dari si pemilik dalam membuat pilihannya, walaupun dia tahu yang dipilihnya itu salah.

Pernah suatu waktu, ketika kita berusaha serius untuk bicara.

Kau bertanya "semudah itukah cinta bagimu ?"

Ya, cinta bagiku suatu hal yang simpel. tapi sulit dijalani....

Dari mengenalmu, berinteraksi, kita bicara, aku mendengar suaramu, aku melihat wajahmu dari media di zaman ini. Meski tak pernah bertemu, perlahan aku merasakan cintaku ada menancap kokoh di salah satu dinding hati kecilmu, cinta pada pandangan pertama kata orang dulu, aku percaya itu. Walau aku tak yakin apakah kau menyadari dan merasakannya juga...

Kau menantangku "coba buktikan seberapa besar cintamu itu padaku !"  
Ini yang tersulit dan hal yang selama ini menggangu kesucian cintaku padamu. Membuktikan aku mencintaimu ?!, sedangkan kita tak pernah saling bertemu, apalagi menyentuh. Bagaimana mungkin kau percaya dengan kesungguhanku ini, maklum.

Cintaku biasanya tak pernah jatuh keorang yang salah, sering... keadaanlah yg menyalahkannya.

Ketika kulihat sekelilingku (mungkin kau juga), melihat mereka yang saling mencinta, mereka yang saling berbagi, saling menjaga, dan saling percaya. Hal ini memang sangat sulit kau terima, dibandingkan dengan aku yang hanya bisa memikirkanmu.  

Ketika kau bertanya lagi " tak inginkah kau memperjuangkan cintamu yang yang suci itu ?, jika kau benar mencintaiku... Buktikanlah ! "

Aku selalu memperjuangkannya sayangku, aku selalu memperjuangkannya. Kembali kepada deskripsi umum cinta tadi ; berbagi, menjaga, percaya. Bukankah kita bisa melakukan itu semua ?

Andai saja kau bisa menerima cintaku ini, kitapun bisa melakukan hal itu, kita bisa saling berbagi, percaya, menjaga. Meski kita terpisah ruang, Bukankah kita masih hidup dialam yang sama.

Bukankah kita hidup dan dipertemukan dizaman ini. Ahhh, apa yang harus kau risaukan ? Jika cinta itu tak mengenal jarak, ruang, dan waktu..... Kau hanya perlu percaya padaku, Pada cintaku.

Kau beri aku lagi dengan pertanyaan yang semakin memojokkanku, ya aku. Seperti memustahilkan akan menjalani cinta denganku, kau bertanya ;

Takkah kau ingin memilikiku seutuhnya ? Utuh hanya milikmu sendiri ?

Perlu kau ketahui, aku ingin memilikimu dengan suci, se suci cinta ini padamu.

Tapi tunggu... Satu pertanyaan muncul dibenakku tentang pertanyaanmu yang cuma satu ini. Akupun balik bertanya padamu, " yang kau maksud dengan memiliki tadi, memiliki dalam apa ? "

Tak kuberi kau waktu untuk menjawabnya, aku melanjutkan kata...

Jika memiliki cintamu, memang itu yang kumaksud dari tadi. Tapi mencintai ragamu... itu terserah padamu sendiri, apakah aku diperbolehkan juga untuk mencintainya. Bagiku, mencintai raga sepertinya sama dengan mencintai nafsu, dan ku tak ingin itu darimu !

Inginku, aku mencintaimu, mencintai cintamu dan kau juga balas mencintai cintaku. Terlepas nantinya, bila kita sudah saling mencinta, raga hanya jadi perantara... Kau mengerti maksudku kan ?

Kau mengejekku lagi, "kenapa tak kau cari saja cinta yang lain, cinta yang lebih nyata ".

Aku telah jatuh cinta padamu.
Aku tak bisa lagi mencari lagi cinta yang lain, sebelum kau jelaskan cintaku. Tak mau kuadukan cinta ini ke yang lain selainmu.

Mungkin kau menganggapku gila, mempertahankan cinta yang seperti ini, tapi aku sangat tahu bahwa aku belum gila...

Kau menutup pembicaraan kita dengan pergi berlalu begitu saja.

Mengenang-cinta-yang-tak-sempat-singgah-dihatimu.

Tapi cukuplah sayangku, aku takkan melanjutkan dan mengungkit-ungkit pembicaraan itu di kemudian hari, Lupakan saja. Aku tau kau tak mengerti ini semua, aku cuma ingin kau tau bahwa aku orang yang jatuh cinta padamu, dulu... Orang yang dulu pernah ingin memiliki cinta juga ragamu... Seorang yang hanya ingin cintanya tidak cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Ah, sudahlah...
Cinta terkadang memang lebih indah dikenang, daripada dijalani ...

Special thanks for @dede***


Share :

Facebook Twitter Google+
6 Komentar untuk "Mengenang cinta yang tak sempat singgah dihatimu"

keroyokan , .kebanyakan cinta nya pake kata penghubung.. hhhhi
tak terhitung dan ga dihitung :D tp feel the same deh ceritanya..

HaHaHa, saya masih pemula dalam nulis mbak, makasih :)

Bagus....baca blog ini serasa bercermin melihat diri sendiri...cinta itu memang misterius ya..kita gak pernah bisa tahu dan mengkontrol kapan cinta itu datang...cinta mengalir begitu saja...

Saya suka sama imbuhannya.
Tapi metaforanya kayaknya masih kurang, deh. Banyak yang klise.

Salam dari www.michaelfrofile.com :)

sAYA INGIN TETAP BERGABUNG DENGAN MU YOZI....

Buat yang gak punya akun blogger masih bisa ikutan koment kok. Caranya,
Pilih (Name/Url) lalu masukan nama dan link kamu (misal link FB).

Thanks buat yang ninggalin koment #KissHug

Pengikut

Back To Top